Mengukir Jejak yang Telah Memudar
Mengukir Jejak Yang Telah Memudar
Oleh : Ust. Amal Khairat, Lc.
Dahulu ketika tahun 1960 dan 1970-an, Indonesia pernah menjadi rujukan pendidikan bagi Negara-negara tetangga, Malaysia misalkan. Pada Era keemasan pendidikan Indonesia saat itu, para pengajar unggulan dari putra terbaik bangsa dikirim ke Negeri Jiran tersebut agar bisa mendidik dan mentransfer ilmu dari negeri ibunda. Tidak puas dengan hanya mengirim guru, para pelajar Malaysia pun berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk belajar langsung kepada kita.
Dahulu, julukan sebagai Macan Asia sempat melekat pada bangsa yang besar ini. Dunia Internasional akan terasa sepi, jika pertemuan-pertemuan mereka tanpa kehadiran sang merah putih di sana.
Dahulu, Indonesia berdiri kokoh menjadi penggagas perdamaian dunia dengan menjadi salah satu pelopor gerakan Non Blok. Pada saat di mana Negara-negara di timur dan barat berebut kekuasaan, Indonesia menjadi penengah dengan mengatakan " kedamaian bagi kami lebih berarti".
Tapi sadarkah kita? Itu semua sekarang tinggal kenangan indah saja, bak dongeng malam untuk menina bobokkan anak bangsa agar terlelap dalam mimpi-mimpinya.
Sekarang semua cerita lama tinggallah cerita, keadaan mulai membalik. Ketika dahulu para pelajar Malaysia belajar ke Indonesia, saat ini kita yang berbondong-bondong datang ke Malaysia untuk belajar. Ketika dahululu Indonesia disebut sebagai Macan Asia, namun sekarang entah masih dikenal orang atau tidak. Ketika dahulu Indonesia menjadi Negara yang disegani dan dihormati di dunia Internasional, namun sekarang kepala penguasa kita menjadi candaan dan tertawaan di luar sana.
Terkenal memang, namun hilang wibawanya tatkala bersanding dengan para punggawa Negara lain.
Hidup memanglah demikian. Terkadang kita berada di atas dan terkadang berada di bawah. Seperti halnya yang dialami umat islam dunia. Setelah lebih dari 13 Abad menguasai dunia, kekuasaannya jatuh dengan runtuhnya Khilafah Usmaniyah Turki pada tahun 1924. Tapi kita yakin dan optimis, Islam akan kembali bangkit dan menguasai dunia. Karena itu merupakan janji Allah Ta’ala yang pasti. Begitu juga dengan Indonesia, Tanah Air tercinta. Ia akan kembali bangkit, jika kita mau.
Sebagai anak bangsa, sebagai penerus estapet perjuangan, sebagai pemuda-pemuda yang dijanjikan Bung Karno yang akan mengguncangkan dunia, kita tidak mungkin hanya diam berpangku tangan menunggu kebangkitan itu, bagaimana akan menggerakkan dunia jika ia sendiri tidak pernah bergerak.
Bergerak secara nyata tanpa mesti menunggu uluran tangan dan manjaan "pemegang kekuasaan". Lakuan saja yang terbaik dan jangan pernah mengeluh. Jadilah pemuda tangguh yang pantang menyerah.
Masih sanggupkah kita mendengarkan cerita-cerita indah itu yang jika kita mendengarnya akan membuat diri ini melambung tinggi. Ketika diri ini telah melambung terlalu tinggi hingga jauh ke awang-awang, kemudian di akhir cerita diri ini dihempaskan dengan keras kebumi dengan pepenggal kata penutup " tapi, itu dahulu".
Bayangkan betapa sakitnya diri ini jika kita mendengarkan kawan kita yang berkebangsaan asing menceritakan kesuksesan negeri kita dimasa lalu, namun selalu ditutup dengan sebuah kata yang menyakitkan " itukan dahulu".
Apakah kita masih ingin mempertahankan satu kata yang menyakitkan itu atau ingin menjadikan semua cerita-cerita itu kembali nyata?. Sanggupkah kita mendengar kelak ketika kita berada di ujung usia, namun semua cerita ini tetap tinggal cerita yang selalu di wariskan ke anak cucu? Ataukah Negara ini akan menjadi negeri dongeng bagi anak penerus bangsa yang hanya bisa mendengar cerita-cerita masa lampau?.
Tak ada yang tidak bisa selagi kita mau dan mau. Siapa lagi yang akan diharapkan oleh tanah ibunda ini kalau bukan kita wahai pemuda. Pemuda tangguh yang akan mengguncang dunia. Siapkah kita membuktikan ungkapan bapak revolusi kita berpuluh-puluh tahun yang lalu itu?.
Namun masih adakah yang belum menyadari perannya sebagai pemuda atau masih merasa telalu dini untuk berbuat karena masih ingin menunggu waktu tua untuk memulai. Atau masih ingin menikmati indahnya masa muda dan baru kemudian nanti berbuat setelah tulang punggung mulai membungkuk. Bagaimana anda bisa memberi untuk bangsa ini sedangkan anda sendiri tak bisa kau menopangnya.
Wahai pemuda, ingat lah pesan Bapak Proklamator kita dahulu kala " Berikan saya sepuluh pemuda maka akan ku goncangkan dunia ini dan berikan saya seribu orang tua maka akan ku cabut gunung Semeru dari kakinya".
Islam memberitahukan bahwa pemuda adalah tonggak penting dalam sebuah kesuksesan. Pemuda adalah penggerak sebuah kemenangan dan keberhasilan.
Ingatkah anda kisah sebuah pasukan besar yang telah mengobrak-abrik benteng pertahanan kerajaan Bizantium, yang mana tidak ada satupun panglima perang islam sebelumnya yang berhasil memasukinya. Namun semua itu bisa di lakukan oleh seorang pemuda yang dijanjikan Rasulullah SAW sebagai Raja terbaik di dunia ini. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan "Konstantinopel akan ditaklukkan oleh pasukan islam. Rajanya adalah sebaik-baiknya raja dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara". Tahukan engkau siapakah anak muda ini, dia lah Muhammada Al Fatih seorang pemuda sekaligus raja dan pimpinan perang yang ketika menggempur ibu kota Konstantinopel dia masih berumur 22 tahun.
Atau tahukan engkau dengan Usamah bin Zaid yang memimpin sebuah pasukan perang di zaman sahabat, dimana di dalam pasukan yang ia pimpin itu terdapat para sahabat nabi yang senior, seperti Abu Bakar dan Usman RA? Tahukan engkau pada saat itu Usamah bin Zaid masih berumur 18 tahun.
Atau ingatkah engkau dengan kisah Al Arqom bin Abi Al Arqom yang menjadikan rumahnya tempat pertama kali Nabi berdakwah, menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam penyebaran dakwah islam, yang mana saat itu ia berumur 16 tahun, atau dengan Zaid bin Tsabit yang menjadi penulis wahyu dan penerjemah Rasulullah ketika umurnya masih sangat belia yaitu 13 tahun. Atau dengan Zubair bin Awwam yang menjadi juru bicaranya Rasulullah pada saat ia berumur 16 tahun dan masih banyak lagi catatan-catatan islam yang menjelaskan betapa seorang pemuda merupakan tonggak pertahanan dan revolusi bangsa.
Sekarang mari bertanya pada diri kita,pada umur kita saat ini, apa yang telah kita lakukan? Apakah mungkin dengan apa yang kita perbuat saat ini dapat mengubah cerita-cerita lama itu kembali nyata?
Sebuah pepatah Arab mengatakan "seorang pemuda itu bukanlah orang yang mengatakan inilah ayahku, akan tetapi ia adalah orang yang berkata inilah saya".
Seorang pemuda yang tangguh bukanlah ia yang hanya bisa membanggakan keberhasilan orang lain, namun ketika ditanya apa karyanya, ia akan diam seribu bahasa tanpa jawaban. Tak ada gunanya membanggakan keberhasialn orang lain namun kita nihil, tanpa ada usaha untuk mencoba keberhasilah yang dahulu telah mereka raih.
Mari segera berbuat. Bangkitlah wahai pemuda revolusioner, jangan menunggu hari esok yang belum pasti akan datang. Jangan terlena dengan keberhasilan dahulu kala, namun jadikan semua keberhasilah masa lalu itu sebagai loncatan untuk mengatakan bahwasannya kita mampu. Gantilah cerita indah yang dahulu pernah bangsa ini raih, menjadi kisah yang kembali nyata. Wallahu A'lam bis Showab.
Mengukir Jejak yang Telah Memudar
Reviewed by DD Azhar
on
11:07 PM
Rating:
Reviewed by DD Azhar
on
11:07 PM
Rating:

No comments: