Top Ad unit 728 × 90

Tulisan Terbaru

[recent]

Kairo Malam Itu

Kairo Malam Itu
Oleh : Ust. Amal Khairat, Lc.

Kejadian ini terjadi tiga tahun yang lalu, bertepatan pada bulan ramadhan 2012, pasca Revolusi Mesir, di sebuah mesjid di pusat kota Cairo.

Sebelum dilansungkannya sholat tarawih berjamaah, imam sholat saat itu tampil menaiki mimbar dan menyampaikan kabar duka tentang kondisi saudara-saudara kita di Somalia. Sang Syeikh menceritakan betapa susahnya kehidupan saudara kita di sana. Mereka kelaparan dan kehausan, tidak ada makanan dan minuman yang cukup,  sehingga mereka harus minum dari air genangan yang keruh dan berkuman. Tidak ada sumber air bersih yang terdekat, harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter agar bisa sampai ke sumber air tersebut.

Sambil meneteskan air mata, sang syeikh tidak sanggup menceritakan betapa susahnya keadaan saudara kita di Somalia. Kesedihan seketika menyelimuti suasana mesjid. Sang Syeikh yang masih berdiri di mimbar mulai berorasi membangkitkan semangat para jamaah agar jangan hanya diam dengan penderitaan yang dialami saudara kita di Somalia.

" Umat muslim itu ibarat satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka semua akan ikut merasakan sakit. Sanggupkah kita hidup senang dan nyaman sementara saudara kita berada dalam kesusahan. Saat ini mereka membutuhkan sumur dan sumber air bersih. Untuk menggali satu lobang sumur di butuhkan biaya sekitar 100.000 poun. Tidak sanggupkah kita membantu mereka untuk menggali satu sumur saja?". 100.000 pound Mesir setara dengan  170 juta rupiah.

Dari kejauhan tampak berdiri seorang bapak-bapak sambil sedikit menutupi wajah tak sanggup menahan tetesan air mata, ia berjalan menuju ke arah Sang Syeikh. Sesampai disamping Syeikh terlihat ia sedikit berbisik kepada Syeikh tersebut sambil menyerah sesuatu ke tangan sang syeikh.

" Allahu akabar, saudara kita ini meberikan mobil yang ia kendarai ke mesjid ini agar uangnya disumbangkan kepada saudara kita di Somalia". Sontak suasana haru semakin menyelimuti keadaan mesjid saat itu. 

Sang Syeikh tidak mau kalah, sambil melepas jam tangan tuanya ia berucap, " Jam tangan ini saya jual dan uangnya akan saya sumbangkan kepada saudara kita di Somalia". Dari sisi kanan mesjid seorang kakek tua berucap, " Wahai syeikh jam tangan anda saya beli dengan 10.000 pound". Gemuruh takbir terdengar di setiap penjuru mesjid.

Tahukan anda berapa nilai 10.000 pound itu? setara dengan 17 juta rupiah.

Selanjutnya syeikh membuka sorban yang ia pakai dan kembali ia melelang dan terjual dengan harga 3000 pound. Semua jamah memberikan apa yang mereka miliki.

Sampai diakhir kesempatan sebelum Syeikh menutup acara dan  mengumumkan perkiraan total yang terkumpul malam itu, seorang anak kecil datang menghampiri Syeikh sambil membawa sebuah tas, seperti tas yang biasa di pakai ibuk-ibuk. Ketika syeikh mulai membuka tas, subhanallah tenyata tas tersebut dipenuhi dengan perhiasan emas. Setelah di ketahui ternyata para ibuk yang ikut saholat saat itu melepas semua perhiasan mereka dan memberikannya untuk di sumbangkan kepada saudara mereka di Somalia. Gemuruh takbir kembali terdengar dan suasana haru tak tertahankan begitu terasa. Air mata ini tak sanggup menahan tumpahan air mata haru melihat pemandangan menakjubkan ini.

Hampir setengah jam sang imam berdiri di mimbarnya, kemudian berucap sambil menahan haru yang tak tertahankan, " Segala puji bagi engkau ya Allah yang telah menanamkan rasa cinta kepada kami terhadap saudara kami, Alhamdulillah perkiraan dana yang kita kumpulkan malam ini mencapai 300.000 pouan mesir, insyaallah semua dana ini akan kita kirim besok pagi ke Somalia" gemuruh takbir kembali terdengar. 

Sholat dimulai dan dalam qunutnya witirnya Sang Syeikh mendoakan saudara-saudara di Somalia, isak tangis jamaah terdengar di setiap penjuru mesjid hingga keluar dan shoaltpun selesai.

Begitulah ketika cinta telah tertanam disetiap jiwa muslim terhadap saudaranya. Tak ada yang akan menghalangi untuk bisa membantu saudara kita saat kesusahan. Karena kita umat islam ibarat satu tubuh yang utuh sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW " orang muslim itu ibarat satu tubuh, jika satu bagian tubuh kesakitan, maka semuanya akan ikut merasakan sakit". Maka tidaklah beriman seseorang yang hanya diam melihat saudaranya yang berada dalam kesusahan.

Tahukan anda, pada tahun 2012 saat itu Mesir berada dalam kondisi perekonomian yang belum stabil pasca jatuhnya Husni Mubarok. Namun kesusahan tidak membuat mereka berpikir panjang untuk membantu saudara mereka yang justru lebih susah dari mereka. Semangat memberi, itualh yang mesti kita ambil pelajaran dari mereka. Bayangkan saja seseorang tidak tanggung-tanggung menyerahkan mobil dan perhiasan yang ia pakai saat itu untuk di beriakn demi membantu saudara kita yang kesusahan.

Pemandangan di atas menyadarkan kita bahwa kita masih sangat jauh dari pada saudara-saudara kita di Mesir. Meski mereka sebenarnya juga dalam keadaan susah, namun tidak menghalang mereka untuk berbuat baik. 

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk senantiasa membantu dan memberi. Karena hakikatnya apa yang kita beri itulah yang akan menjadi harta abadi kita di akhirat kelak yang akan menjadi timbangan amalan untuk membantu kita memasuki surganya Allah SWT. Wallahu A'lam bis Showab.
Kairo Malam Itu Reviewed by DD Azhar on 10:59 PM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by DD Al-Azhar Mesir © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by DD Al-Azhar Mesir

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.