Jaga Lisan Kunci Amalan Surga
Jaga Lisan Kunci Amalan Surga
Oleh : Ust. Jamaludin Junaedi
Cukup satu kata, orang akan merasa bahagia seumur hidup. Seorang perempuan yang sedang jatuh cinta, ia hanya menunggu satu kata dari pangeran idamannya “CINTA”.
Ibu-ibu yang sudah bersuami, mereka hanya ingin kepastian satu kata yang brilian dari pasangannya “SETIA”.
Orang yang sudah lama mencari teman hidup, tidak banyak kata yang ia tunggu-tunggu, cukup satu kata saja “NIKAH”.
Orang Yang akan dihukum mati, hanya satu kenikmatan dunia yang ia inginkan. Uang Trilyunan dollar, wanita-wanita cantik, tahta kerajaan itu tidak berharga baginya. Ia hanya menginginkan satu kata dari seorang hakim : “BEBAS”.
Dan begitu juga sebaliknya. Cukup satu kata saja, orang akan merasa sakit hati atau sengsara seumur hidup. Kata “cinta” menjadi “Putus”, kata “setia” menjadi “selingkuh” kata “nikah” menjadi “batal atau ”cerai” dan kata “bebas” menjadi “eksekusi”.
Mungkin saja yang berucap tidak menyadari dampak ucapannya. Tidak merasa berjasa ataupun jadi seorang pahlawan saat kata-kata yang ia keluarkan berupa mutiara, ataupun merasa bersalah dan berdosa saat yang ia semburkan itu adalah racun.
Namun, bisa jadi yang menerima serpihan katanya akan merasakan bahagia yang amat dalam, membekas pada jiwanya, sehingga menyucurkan air mata kebahagiaan. Ataupun rasa sakit hati yang luar biasa terpendam dalam relung sanubarinya, sehingga ia menyucurkan air mata kesedihan.
Itulah dahsyatnya kata, deretan huruf yang amat simple saat diungkapkan oleh anggota tubuh tidak bertulang yang bernama lisan.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah sejak lama mengingatkan kita akan dahsyatnya kata-kata yang dikeluarkan lisan ini, baik itu berupa mutiara ataupun racun.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.
“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt ridha kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah swt naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam’,” (HR Bukhari, no 6477, 6478).
Mari kita renungi dan resapi hadits di atas, sehingga kita mendapatkan pelajaran.
Setidaknya ada dua kata yang menarik untuk kita ambil pelajaran:
1. Ungkapan “Satu kata”.
Pertanyaannya: Bagaimana kalau sejumlah kata, kalimat, paragraf dan ribuan kata yang kita sendiri tidak mampu mengontrolnya? Dan apa jawaban kita saat lisan ini menjadi saksi atas segala yang kita ucapkan? Sebagaimana yang diperingatkan Allah Ta’ala dalam al-quran QS An-Nur 24-25:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24)
Artinya: Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
Tentunya pertanggungjawabannya lebih berat lagi.
2. Tidak disadari
Logikanya: kalaulah tidak disadari saja bisa menyemplungkan orang ke dalam api neraka jahannam, apalagi kalau dengan kesadaran, dinikmati atau mungkin disiapkan waktu khusus untuk melakukannya.
Kita mesti menjaga lisan agar tidak menggelincirkan kita ke dalam api neraka. Kita perlu memenej kata-kata, mengukur dan menyadari apa yang akan disampaikan sehingga yang keluar adalah mutiara-mutiara yang ditunggu orang lain.
Sebesar apa bahaya lisan dan bagaimana tuntunan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menjaganya, akan penulis paparkan dalam penjelasan selanjutnya.
Bahaya Lisan
Lisan jauh lebih tajam dari pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan. Luka karena lisan akan terus terkenang.
Maka berhati-hatilah dengan lisan, dalam hadits Riwayat Abu Hurairah diterangkan:
...وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: الفَمُ وَالفَرْج
Artinya: “…Dan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang dosa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Kemudian beliau menjawab: mulut dan kemaluan” (HR Tirmidzi, no 2004, hasan).
Sebagian ulama mengatakan: 9/10 dari dosa yang dilakukan hamba itu bersumber dari lisan.
Ibnu al-Qayyim jauziah dalam bukunya al-jawab al-kafy membagi bahaya lisan ke dalam dua bagian:
Pertama: Diam terhadap kebenaran (setan bisu).
Pelakunya berdosa karena tidak mengikuti tuntunan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam amar makruf nahi munkar, berdasarkan hadits: “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya. Dan (merubah dengan hati) itu cermin selemah-lemahnya keimanan …”.(HR Muslim, no 49)
Point ini kurang disadari banyak orang. Saat ada dua pilihan: hak dan bathil, masih saja ada orang yang mengambil sikap netral, padahal memilih yang hak itu bukan pilihan tapi sebuah kewajiban.
Kedua: Bicara yang bathil (setan bicara).
Inilah malapetaka yang banyak menimpa kita. Diantara racun yang disemburkan lisan dan mencelakakan kita adalah mengucapkan kata-kata kotor, ghibah (menceritakan keburukan orang lain) Namimah (mengadu domba), menghina, mengejek, berburuk sangka, berbohong, marah, bersaksi palsu, membuat isu, menyebarkan gosip dan bentuk keburukan lainnya.
Oleh karena itu, Untuk menghindari hal-hal buruk di atas penulis akan paparkan tuntunan Rasulullah dalam menjaga lisan.
Tuntunan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menjaga lisan
Rasulullah sebagai panutan kita dalam menjaga lisan, bukanlah manusia pendiam atau bertipe dingin dan bukan pula pengobral kata-kata atau janji. Ia terkadang diam dan terkadang bicara. Ia bicara sesuai kebutuhan dan tuntutan. Ini berarti menjaga lisan tidak identik dengan diam.
Di antara tuntunan Rasulullah dalam menjaga lisan adalah sebagai berikut:
1. Bicara yang baik atau diam
Point ini adalah bagian terpenting dari rentetan tuntunan Rasulullah dalam menjaga lisan. Kalau ia sudah diamalkan maka yang lain hanya sebagai pelengkap saja.
Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa prilaku “bicara yang baik atau diam” merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang, Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka bicaralah yang baik atau diam (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).
Jadi, kita punya dua pilihan: bicara yang baik atau diam sama sekali.
Saya kira untuk terus menerus bicara yang baik sangatlah susah, apalagi bila waktu kita sering kosong. Makanya, yang paling selamat dilakukan adalah banyak diam. Sebagaimana Dalam hadits:
من صمت نجا
Artinya: Barang siapa yang diam, ia akan selamat (HR Turmudzi dan Tabhrani)
Umar bin Khattab berkata:
من كثر كلامه كثر سقطه
Artinya: Barang siapa yang banyak bicara, maka akan banyak tergelincirnya (As-Sumtu, Ibnu Abi Dunya, 241)
Pepatah mengatakan :
“وإذا كان الكلام من فضة فالسكوت من ذهب
Artinya: “Jika bicara itu perak maka diam itu emas”.
Dalam pepatah lain:
“ في الصمت السلامة وفى التكلم الندامة
Artinya: “ Diam itu selamat, bicara itu kiamat (berakhir pada penyesalan)”
2. Meninggalkan pembicaraan yang kurang bermanfaat
Salah satu tindakan preventif agar lisan kita terjaga adalah dengan menjauhi pembicaraan yang tidak bermanfaat.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Artinya: Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Diantara tanda baiknya islam seseorang, dia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya (Hadits hasan, Riwayat Turmudzi dan lainnya).
Konsekuensi logis dari hadits ini adalah bahwa kita mesti menyibukan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah, lisan kita senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah agar tidak terjerumus pada pembicaraan yang tidak bermanfaat lalu bernilai dosa di sisi Allah Ta’ala. Wal iyadzu billah
Dalam kata hikmah disebutkan: “Dirimu, bila tidak kamu sibukan ia dengan ketaatan maka dia akan menyibukanmu dengan kemaksiatan”.
Imam Al-Auza'i berkata, "Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada kami, tidak ada yang memelihara surat tersebut kecuali diriku dan Makhul: “Amma Ba'du... sesungguhnya orang yang memperbanyak mengingat mati, maka dia akan rela dengan harta duniawi yang sedikit, dan barangsiapa yang menyadari bahwa perkataannya sebagai bagian dari amalnya maka dia akan sedikit bicara pada perkara yang tidak bermanfaat” (Ihya Ulumuddin, 3/112)
Bila saja kita sudah terbiasa untuk ngobrol, ngerumpi disela-sela menunggu anak keluar dari sekolah, maka mulai sekarang pembicaraannya mesti sudah diarahkan pada hal-hal positif. Bila biasanya bicara ke timur dan ke barat tanpa ada rem, maka selanjutnya bisa diisi dengan berbagi tips mendidik anak, resep masakan yang disayang suami ataupun lainnya.
3. Tidak suka mengobral omongan
Orang yang suka mengobral omongan dikhawatirkan mereka akan dijauhkan kelak di akhirat dari majlisnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam hadits:
عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ
أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالمُتَشَدِّقُونَ وَالمُتَفَيْهِقُونَ
“Dari Jabir bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian, dan sesungguhnya yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah mereka yang banyak berbicara, yang memaksa-maksakan bicara supaya didengar dan mereka yang sombong’,” (hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Dan ternyata kebiasan mengobral omongan, banyak bicara dengan selain dzikir kepada Allah akan berdampak pada kerasnya hati, sebagaimana dalamHadits Turmudzi, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ القَلْبُ القَاسِي
Artinya: “Janganlah Kalian banyak bicara dengan selain dzikir kepada Allah, karena banyak bicara dengan selain dzikir kepada Allah akan mengeraskan hati. Dan sejauh-jauhnya orang dari hariban Allah Ta’ala adalah orang yang hatinya keras” (HR Turmudzi, 2411)
4. Tidak semua yang didengar perlu diceritakan
Di zaman isu, gosip dan fitnah, berita miring menjadi bahan pembicaraan renyah untuk disajikan saat berkumpul, bagi arisan bahkan pengajian sekalipun. Dan sudah lumrah, kalau beritanya sejengkal maka sampai pada pendengar kedua akan menjadi sehasta dan bisa jadi pendengar kelima sudah sejauh satu mil.
Berita-berita yang sampai pada telinga kita mesti di saring, kalau perlu diklarifikasi dan tidak mesti semuanya diceritakan kepada orang lain. Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
dari Abu Hurairah RA, Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Cukuplah menjadi nilai kebohongan, jikalau seseorang menceritakan semua yang ia dengar’,” (HR Muslim).
Itulah diantara tuntunan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menjaga lisan. Alangkah indahnya bila kita semua mampu mengamalkan.
Syeikh Qardawi dalam sebuah muktamar mengatakan: ‘Diantara sebab kemunduran mesir ini adalah banyaknya yang bicara dan sedikit yang bekerja”
Memang benar, Umat yang sedikit bicara karena menjaga lisan akan banyak kerja. Umat yang banyak kerja akan banyak menghasilkan karya. Umat yang banyak karya akan banyak prestasi. Dan umat yang banyak prestasi adalah umat yang maju dan berperadaban.
Jika itu hukum dunia, maka hukum akhirat bagi orang yang menjaga lisan adalah jaminan masuk syurga, sebagaimana dalam hadits shahih:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ
“Dari Sahl bin Sa’d, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: ‘Barang siapa yang menjamin bisa menjaga organ antara dua rahang (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka aku jamin surga baginya’,” (HR Bukhari [6474]).
Sangatlah wajar bila Rasulullah berani menjamin demikian, karena dalam hadits lain disebutkan bahwa menjaga lisan adalah kunci segala amalan, tepatnya pada penggalan hadits berikut:
“Setelah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang pokok, , tiang dan puncak dari semua amalan yang mendekatkan seseorang ke syurga dan menjauhkannya dari api neraka, Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?’ Saya (Mu’adz RA) berkata: ‘Mau, wahai Rasulullah saw.’ Maka Rasulullah saw memegang lidahnya, beliau bersabda, ‘Tahan ini! (HR At-Tirmidzi , hasan shahih).
Mudah-mudahan kita semua bisa mendapatkan kunci amal yaitu menjaga lisan, karena kalau kunci sudah ditangan, insyaallah segala isi yang ada dalam istana amal akan mudah kita ambil. Amin
Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bis shawab.
Jaga Lisan Kunci Amalan Surga
Reviewed by DD Azhar
on
9:59 AM
Rating:
Reviewed by DD Azhar
on
9:59 AM
Rating:

No comments: