Mengingat Mati
Mengingat Mati
oleh : Ust. Abdullah Muttaqin R, Lc.
Rasulullah SAW. bersabda :”Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (kematian).” Kematian merupakan sebuah kepastian yang akan dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa. Ia akan datang menjemput jika waktunya telah tiba.
Ketika itu tidak ada tempat bersembunyi atau waktu melarikan diri walau sedetikpun untuk menghindar darinya. Kematian merupakan proses dipisahkannya jasad dan ruh makhluk oleh Allah SWT Tuhan Pencipta alam semesta. Ketika itu ruh seorang makhluk akan berpindah dari alam dunia menuju alam kubur sebelum nantinya berpindah ke alam akhirat yang kekal.
Di alam kubur manusia akan diperlihatkan balasan yang akan ia terima atas semua perbuatan yang telah ia lakukan di dunia. Jika ia banyak melakukan kebaikan maka ia akan senantiasa bahagia dan lapang dalam kuburnya. Semua amal ibadah yang telah ia tunaikan di dunia akan menemani dan menyinarinya. Tetapi sebaliknya, ketika seseorang bergelimang kemaksiaatan di dunia, ia tak akan pernah mendapat ketenangan. Hari-harinya suram melihat betapa pedih azab yang akan diterimanya di akhirat nanti, belum ditambah siksa kubur yang senantiasa mendera dirinya.
Sebenarnya kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti oleh seorang yang beriman dan sangat berharap pertemuan dengan Rabb-Nya. Karena dengan kematian ia akan lebih cepat merasakan kehidupan sejati yang penuh dengan kenikmatan.
Maka tak heran ketika kita mendengar betapa gagah beraninya para mujahid di medan laga memerangi kaum kuffar tanpa mengenal rasa takut. Di dalam diri mereka telah terpatri kuat keimanan dan pengharapan besar akan janji yang akan Allah berikan untuk mereka. Semboyan mereka sungguh menggelora “Hidup mulia atau mati syahid”. Bagi mereka kematian adalah suatu yang diharapkan, berbeda jauh dengan para musuh yang justru sebaliknya. Mereka sangat takut dengan kematian karena tidak ada iman dalam diri mereka. Itulah sebabnya mengapa tentara Islam selalu ditakuti oleh musuh di medan pertempuran.
Maka tak heran ketika kita mendengar betapa gagah beraninya para mujahid di medan laga memerangi kaum kuffar tanpa mengenal rasa takut. Di dalam diri mereka telah terpatri kuat keimanan dan pengharapan besar akan janji yang akan Allah berikan untuk mereka. Semboyan mereka sungguh menggelora “Hidup mulia atau mati syahid”. Bagi mereka kematian adalah suatu yang diharapkan, berbeda jauh dengan para musuh yang justru sebaliknya. Mereka sangat takut dengan kematian karena tidak ada iman dalam diri mereka. Itulah sebabnya mengapa tentara Islam selalu ditakuti oleh musuh di medan pertempuran.
Disadari atau tidak, setiap tarikan nafas kita adalah perjalananan menuju ajal. Memang umur kehidupan kita sudah dijatah oleh Allah SWT, tak ada yang bisa menambah ataupun menguranginya.
Ajal merupakan rahasia Allah SWT yang tak akan pernah kita ketahui masanya. Hal ini mengandung hikmah agar manusia betul-betul serius menjalani hidup. Sehingga kapanpun Malaikat maut datang menjemput, ia tengah dalam kondisi takwa dan akan kembali kepada Rabb-Nya ditemani bekal yang ia kumpulkan berupa amal-amal salehnya.
Dunia yang penuh dengan godaan dan rintangan memang sering membuat mata silau. Bergelimang dengan nikmat dunia seringkali melalaikan akan adanya kehidupan kekal setelah hidup fana ini, yaitu kehidupan di Akhirat. Selayaknya seorang hamba bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi hari penghitungan amal dan pembalasan, hari ketika harta benda dan anak-anak tidak bisa menolongnya kecuali mereka yang datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih dan berserah diri.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist, yang artinya : “Jika seorang anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya melainkan tiga perkara saja, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.”.
Kesempatan untuk beramal akan terhenti saat kematian datang, maka sebelum terlambat marilah kita bermuhasabah diri menghitung berapa banyak amal saleh yang telah kita lakukan selama ini, sudahkah ia melebihi jumlah kelalaian yang juga kita lakukan? Lalu adakah amal saleh kita ini dikhususkan hanya mengharap pahala dari Allah SWT atau ia hanya amalan saleh yang akan terhapus lantaran kita salah meniatkan tujuan? Semoga Allah SWT selalu membimbing kita meniti jalan lurus-Nya hingga mengantarkan kita menuju pintu gerbang Firdaus-Nya, Aamiin. Wallahu A'lam bis Showab.
Mengingat Mati
Reviewed by DD Azhar
on
5:08 AM
Rating:
Reviewed by DD Azhar
on
5:08 AM
Rating:

No comments: